avalw news
Putu WijayaPutu WijayaVIEW PROFILE →

Indonesia Naik ke Peringkat Dua Dunia: Menyambut Era Baru Wisata Ramah Muslim

tourism2026-08-27 · 3 min read · 0 reads

Indonesia melompat tiga peringkat dan kini berbagi posisi kedua dunia bersama Turki dan Arab Saudi dalam Global Muslim Travel Index 2026. Di tengah pasar wisata Muslim global yang menuju 262 juta wisatawan, inilah bagaimana teknologi pintar dan kesiapan destinasi mengangkat nama Indonesia ke panggun

Di tengah persaingan global yang semakin ketat untuk menarik wisatawan, Indonesia berhasil mencatatkan sebuah prestasi yang membanggakan di sektor pariwisata. Salah satu segmen yang tumbuh paling pesat dan menjanjikan adalah wisata ramah Muslim, atau yang sering disebut sebagai wisata halal. Dalam bidang inilah Indonesia baru saja menorehkan lompatan besar yang mengukuhkan posisinya sebagai salah satu pemain utama di kancah dunia.

Lompatan ke posisi kedua dunia

Kabar membanggakan ini datang dari sebuah pemeringkatan bergengsi yang menjadi acuan utama di industri pariwisata Muslim global. Menurut Global Muslim Travel Index atau GMTI tahun 2026 yang disusun oleh Mastercard dan CrescentRating, Indonesia berhasil naik tiga peringkat sekaligus. Kenaikan yang signifikan ini menempatkan negara kita pada posisi yang sangat terhormat di antara ratusan destinasi lainnya.

Pencapaian ini menjadi semakin istimewa mengingat posisi yang berhasil diraih oleh Indonesia dalam pemeringkatan tersebut. Kini Indonesia berbagi posisi kedua dunia bersama dua negara besar lainnya, yaitu Turki dan Arab Saudi, dengan masing-masing meraih skor tujuh puluh sembilan. Sementara itu, posisi puncak secara global masih dipegang dengan kokoh oleh negara tetangga kita, Malaysia.

Indonesia Naik ke Peringkat Dua Dunia: Menyambut Era Baru Wisata Ramah Muslim

Rahasia di balik kesuksesan

Kenaikan peringkat yang mengesankan ini tentu saja bukanlah sebuah kebetulan, melainkan hasil dari kerja keras dan strategi yang matang. Posisi Indonesia yang membaik ini didukung oleh berbagai upaya yang dipimpin langsung oleh pemerintah, penyelenggaraan acara-acara halal berskala besar, serta investasi yang berkelanjutan dalam meningkatkan kesiapan destinasi agar lebih inklusif bagi semua wisatawan.

Salah satu faktor kunci yang paling menonjol dan menjadi sorotan adalah pemanfaatan teknologi modern dalam melayani para pelancong. Laporan GMTI secara khusus menggambarkan Indonesia sebagai salah satu destinasi dengan performa terkuat di tahun 2026. Hal ini disebabkan oleh adopsi teknologi pariwisata pintar dan kecerdasan buatan yang secara nyata digunakan untuk meningkatkan pengalaman para pengunjung.

Penggunaan teknologi ini sejalan dengan tren global yang sedang berkembang di kalangan wisatawan Muslim di seluruh dunia. Pasar wisata Muslim kini telah memasuki era yang disebut sebagai era kepercayaan digital, di mana sebagian besar wisatawan sangat mengandalkan berbagai alat digital. Kemampuan Indonesia untuk beradaptasi dengan cepat terhadap tren ini menjadi nilai tambah yang sangat berharga.

Pasar raksasa yang menjanjikan

Prestasi ini menjadi semakin penting jika kita melihat betapa besarnya potensi pasar wisata Muslim secara global. Data menunjukkan bahwa pada tahun 2025 saja, terdapat sekitar seratus sembilan puluh enam juta kedatangan wisatawan Muslim di seluruh dunia. Angka yang fantastis ini mencerminkan pertumbuhan yang sangat signifikan dan konsisten dalam sektor perjalanan yang ramah bagi umat Muslim.

Prospek ke depan bahkan terlihat jauh lebih cerah dan menggiurkan bagi negara-negara yang mampu memanfaatkannya. Pasar perjalanan Muslim diperkirakan akan terus melaju hingga mencapai angka sekitar dua ratus enam puluh dua juta kedatangan internasional. Potensi belanja global dari sektor ini pun diramalkan akan menembus angka yang luar biasa besar, yaitu sekitar tiga ratus sepuluh miliar dolar Amerika Serikat.

Standar penilaian yang komprehensif

Agar penilaian ini kredibel, GMTI menggunakan metodologi yang sangat teliti dan mencakup wilayah yang luas di seluruh dunia. Pemeringkatan GMTI tahun 2026 ini mengevaluasi sebanyak seratus lima puluh destinasi wisata. Jumlah tersebut secara mengesankan mewakili lebih dari sembilan puluh delapan persen dari total kedatangan wisatawan Muslim di seluruh dunia, sehingga hasilnya sangat representatif.

Penilaian terhadap setiap destinasi dilakukan berdasarkan sebuah kerangka kerja yang komprehensif dan terstruktur dengan baik. Kerangka kerja yang dikenal dengan nama ACES ini menilai empat aspek utama, yaitu Akses atau kemudahan mencapai destinasi, Komunikasi, Lingkungan yang mendukung, serta Layanan yang tersedia bagi para wisatawan Muslim. Keempat pilar inilah yang menentukan kualitas sebuah destinasi.

Secara keseluruhan, pencapaian gemilang Indonesia dalam GMTI 2026 ini adalah bukti nyata dari komitmen kuat untuk menjadi destinasi wisata ramah Muslim terkemuka di dunia. Dengan memadukan kekayaan budaya dan alam yang luar biasa dengan inovasi teknologi serta pelayanan yang tulus, Indonesia tidak hanya menyambut wisatawan, tetapi juga membuka lembaran baru yang penuh harapan bagi masa depan pariwisatanya.

Putu Wijaya
Stay updated
Putu Wijaya
Subscribe to get an email whenever Putu Wijaya publishes a new story. No spam, unsubscribe anytime.
Putu Wijaya
WRITTEN BY THE AUTHOR
Putu Wijaya
2026-08-27 · 3 min read · 0 reads
View profile →
VERIFY THIS STORY
ASK AI
MORE FROM Putu Wijaya
Report this articlesupport@avalw.com