Putu WijayaVIEW PROFILE →
Melampaui Bali, Indonesia percepat pengembangan lima destinasi super prioritas pada 2026
Indonesia mendorong strategi Sepuluh Bali Baru dan lima destinasi super prioritas seperti Danau Toba dan Labuan Bajo untuk menyebarkan kunjungan wisatawan ke seluruh nusantara.
Selama ini, Pulau Bali dikenal sebagai primadona utama pariwisata Indonesia di mata dunia. Namun, pemerintah kini tengah gencar mendorong strategi untuk menyebarkan arus kunjungan wisatawan ke berbagai wilayah lain di seluruh nusantara. Upaya ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada satu destinasi saja.
Dominasi Bali dan pertumbuhan daerah lain
Data pada kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan betapa dominannya posisi Bali. Selama periode Januari hingga Maret, wilayah Badung di Bali mencatatkan sebanyak 2,05 juta kunjungan, dengan pertumbuhan sebesar 12,6 persen. Angka ini menyumbang lebih dari 60 persen dari total keseluruhan kedatangan wisatawan mancanegara ke Indonesia.
Secara nasional, Indonesia berhasil menyambut 3,44 juta wisatawan mancanegara sepanjang kuartal pertama tahun 2026. Jumlah tersebut mencerminkan pertumbuhan yang cukup sehat, yaitu sebesar 8,62 persen, jika dibandingkan dengan 3,16 juta kunjungan pada periode yang sama di tahun sebelumnya.
Yang menggembirakan, sejumlah destinasi di luar Bali mulai menunjukkan geliat pertumbuhan yang signifikan. Beberapa pusat wisata baru seperti Mandalika di Lombok, Labuan Bajo yang menjadi gerbang menuju Komodo, serta kawasan Borobudur di Yogyakarta, tercatat mengalami pertumbuhan kunjungan dengan angka dua digit yang menjanjikan.
Strategi Sepuluh Bali Baru

Untuk mewujudkan pemerataan ini, pemerintah menjalankan sebuah inisiatif yang dikenal dengan nama Sepuluh Bali Baru. Program ini pada dasarnya bertujuan untuk mendistribusikan arus kunjungan wisatawan ke destinasi alternatif yang bernilai tinggi. Dengan demikian, tekanan terhadap kawasan yang sudah terlalu padat dapat dikurangi secara bertahap.
Dari sekian banyak rencana, pemerintah akhirnya mengambil pendekatan yang lebih terfokus dan pragmatis. Fokus utama dipersempit menjadi lima destinasi yang ditetapkan sebagai Destinasi Super Prioritas. Kelima lokasi tersebut adalah Danau Toba, Borobudur, Mandalika, Labuan Bajo, dan yang terakhir adalah Likupang di Sulawesi Utara.
Danau Toba dan Labuan Bajo
Danau Toba di Sumatra Utara diposisikan sebagai pusat wisata geologi vulkanik dan budaya Batak. Investasi yang telah terealisasi di kawasan ini berkisar antara 5 hingga 7 triliun rupiah. Pada tahun 2023, destinasi ini menerima sekitar 3,4 juta kunjungan, sebuah lonjakan luar biasa sebesar 98,3 persen jika dibandingkan dengan tahun 2019.
Sementara itu, Labuan Bajo di Pulau Flores terus dikembangkan sebagai gerbang menuju petualangan bahari dan Taman Nasional Komodo. Pada tahun 2024, kawasan ini mencatatkan 411 ribu kunjungan, dengan pertumbuhan yang mengesankan sebesar 123,3 persen dibandingkan tahun 2019. Investasi yang terealisasi mencapai 4 hingga 6 triliun rupiah.
Perkembangan sektor perhotelan di Labuan Bajo juga cukup pesat. Jumlah kamar yang tersedia diperkirakan mencapai 1.533 unit pada tahun 2025, dan diproyeksikan bertambah hingga 1.825 unit pada tahun 2027. Beberapa properti mewah seperti AYANA Komodo Resort dengan 205 kamar turut memperkuat daya tarik kawasan ini.
Mandalika, Borobudur, dan Likupang
Mandalika di Lombok menjadi salah satu destinasi dengan investasi terbesar, yakni berkisar 13 hingga 15 triliun rupiah. Kawasan ini semakin terkenal berkat statusnya sebagai tuan rumah ajang balap bergengsi seperti MotoGP dan Kejuaraan Dunia Superbike. Pada tahun 2024, Mandalika menerima 1,2 juta kunjungan, tumbuh sebesar 51,4 persen.
Kawasan Borobudur di Jawa Tengah, yang terkenal dengan candi Buddha megahnya, menerima lebih dari 1,4 juta kunjungan pada tahun 2023. Di sisi lain, Likupang di Sulawesi Utara masih dalam tahap pengembangan awal, dengan 71.794 kunjungan pada tahun 2024. Sejumlah jaringan hotel internasional seperti Hilton dan Marriott telah masuk dalam rencana pembangunan.
Kontribusi ekonomi dan kebijakan visa
Secara keseluruhan, sektor pariwisata memberikan kontribusi yang sangat besar bagi perekonomian negara. Pada tahun 2025, kontribusi pariwisata tercatat mencapai 1,27 kuadriliun rupiah, atau setara dengan 5,5 persen dari produk domestik bruto nasional. Ini menegaskan betapa vitalnya sektor ini bagi masa depan Indonesia.
Guna mendukung pertumbuhan tersebut, pemerintah juga terus memperbarui kebijakan keimigrasian. Layanan Visa on Arrival elektronik telah dipermudah aksesnya, sementara program Golden Visa yang diluncurkan pada 25 Juli 2024 diperluas untuk menarik wisatawan jangka panjang, pekerja digital, serta para investor asing.
Selain itu, tren perilaku wisatawan juga mengalami perubahan positif. Rata-rata lama tinggal wisatawan kini mencapai 8,9 hari, meningkat 20,2 persen, dengan rata-rata pengeluaran sebesar 1.420 dolar Amerika. Dengan strategi pemerataan ini, Indonesia berharap seluruh potensi keindahan nusantara dapat dinikmati dan memberikan manfaat yang lebih merata.






